Kamis, 29 Desember 2016

Serangan Internet Terbesar Membikin Situs-Situs Top Tumbang

Serangan Internet Terbesar Membikin Situs-Situs Top Tumbang
Hingga penghujung tahun 2016 ini, serangan ke jagad internet Oktober kemarin telah mencatatkan rekor sebagai serangan terbesar. Jaringan internet dengan server milik Dyn, perusahaan yang menguasai sebagian besar infrastruktur sistem nama domain (DNS) menjadi korban serangan ini.

Akibatnya, berbagai situs besar macam Twitter, Guardian, The New York Times, CNN, Reddit, Soundcloud, Netflix, dan masih banyak lagi, tumbang. Serangan ini berjenis Distributed Denial of Service (DDos).

Dyn menyadari serangan ini setelah dilapori bahwa banyak situs ramai pengunjung jadi tak dapat diakses sejak pukul 7 waktu setempat. Masalah ini melanda mulai dari Pantai Timur wilayah Amerika Serikat hingga menyebar ke arah barat, juga di wilayah Amerika Utara dan Eropa. Menurut berita New York Times, ada tiga gelombang serangan yang berakhir di malam hari.

Untuk menghasilkan serangan besar terhadap perusahaan besar pula, dikerahkan ratusan ribu perangkat yang terhubung internet seperti IP kamera, alarm bayi, hingga router dirumah. Jaringan dari bermacam perangkat tersebut tanpa sepengetahuan pemilik telah diinfeksi malware khusus yang dikenal sebagai botnet guna memudahkan koordinasi saat melakukan aksi bombardir ke server yang dituju hingga runtuh.

Botnet, singkatan dari robot network yang dikembangkan untuk menjangkiti berbagai macam perangkat ini bernama Mirai. Serangan besar terhadap lalu lintas jaringan internet ke server Dyn ini dieksekusi oleh botnet Mirai yang dibuat oleh hacker penyerang.

Computer Emergency Readiness Team Amerika Serikat menjelaskan bahwa DDos dalam dunia komputasi merupakan serangan cyber terhadap komputer atau server yang pelakunya berusaha menghabiskan sumber atau resource komputer tersebut hingga target tidak dapat lagi menjalankan fungsinya dengan normal dan benar. Maka, tak heran bila pengguna lain yang hendak mengakses situs tersebut tidak bisa mengakses sebagaimana mestinya.

Apa yang terjadi pada server milik Dyn juga sama. Serangan DDoS dimana perangkat berjaringan yang telah terinfeksi botnet Mirai dikerahkan untuk menyerang komputer atau server target hingga lumpuh. Bahkan Barbara Simons, anggota dewan penasehat dari Komisi Bantuan Pemilu Amerika Serikat, mengatakan kepada New York Times bahwa serangan tersebut dapat mempengaruhi pemungutan suara elektronik untuk militer atau sipil di luar negeri.
Serangan Internet Terbesar Membikin Situs-Situs Top Tumbang 
Di Indonesia, yang pernah diserang oleh DDoS adalah situs forum Kaskus pada 2008. Komunitas YogyaFree bertanggung jawab atas serangan tersebut yang tercatat berlangsung pada 16-17 Mei 2008. Berbagai thread yang telah dibuat terpaksa dikunci oleh admin forum tersebut.

Waktunya relatif lama, sampai pihak Kaskus terpaksa mematikan server. Karena kejadian ini, seperti diberitakan CNN Indonesia, Kaskus juga kemudian mengganti server yang bisa menangkal serangan serupa.

Situs domain co.id juga pernah mendapat serangan pada tahun berikutnya yang mengakibatkan tumbang selama 4 hari. Praktis bagi pelaku usaha yang menggunakan domain .id terdampak imbasnya karena tidak berfungsinya situs berdomain .id.

Dilansir TIME, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat turun tangan dengan melakukan investigasi atas kejadian serangan besar kepada Dyn. Tidak ada kelompok hacker yang mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Belakangan, kelompok Anonymous dan New World Hacker mengaku bertanggung jawab, meski klaim ini belum dapat dikonfirmasi.

Model serangan DDos seperti ini juga tercatat dilakukan dengan motif protes terhadap kebijakan pemerintah. Seperti halnya serangan oleh kelompok Anonymous kepada pemerintah Australia pada tahun 2010 lalu yang dinamakan Operasi Titstorm menanggapi kebijakan web sensor yang diusulkan.

Namun begitu, setiap tahun serangan internet berbasis DDoS memang selalu menunjukkan peningkatan, seperti di tahun ini: serangan terhadap server Dyn dilaporkan hingga 1,2 Tbps.

Sebagai perbandingan, pada kuartal keempat tahun 2015 kemarin, Akamai merilis laporan yang mencatatkan terdapat lima serangan DDoS lebih dari 100 Gbps dengan target terbesar industri game, disusul software dan teknologi. Sedangkan data dari Arbor Networks mencatat, tahun ini, setidaknya hingga Desember telah mencatatkan serangan sebesar 1.100 Gbps, dibanding tahun 2015 dan 2014 lalu yang mencatatkan masing-masing di kisaran 500 Gbps dan 400 Gbps.

Awal 2016 lalu, serangan DDoS kepada situs BBC sempat digadang-gadang sebagai yang terbesar. Ia dilakukan oleh kelompok New World Hacking yang mengklaim mencapai 602 Gbps. Kebenaran angka distribusi serangan tersebut masih perlu diverifikasi dan kalaupun benar, masih lebih besar serangan terhadap raksasa Dyn pada Oktober lalu.

Teknik serangan Distributed Denial of Service (DDoS) memang kerap digunakan untuk melumpuhkan situs target. Meskipun telah lama ada, hingga kini cara ini masih dipakai dengan berbagai macam strategi penyerangan dan terbukti efektif. 

Evolusi Aplikasi pada Gawai Pintar

Evolusi Aplikasi pada Gawai Pintar
Apalah arti sebuah gawai pintar jika ia tidak bisa menjalankan fungsinya. Dengan aplikasi-aplikasilah sebuah gawai pintar menjadi gawai pintar. Apple telah menikmati buah dari melimpahnya aplikasi dalam App Store mereka, yang membuat iPhone mereka menjadi salah satu gawai paling populer di dunia saat ini.

Hingga Juni tahun ini, App Store Apple telah memiliki lebih dari 2 juta aplikasi di dalamnya, hanya selisih sedikit di bawah Google dengan Google Play-nya yang memiliki sekitar 2,2 juta aplikasi, seperti dirangkum oleh Statista.

Dengan jumlah tersebut, bisa dibayangkan seberapa banyak hal yang berpotensi mampu dilakukan oleh sebuah gawai pintar Apple seperti iPhone dengan dukungan jutaan aplikasi itu. Hal masih ditambah dengan rata-rata peluncuran aplikasi tiap tahunnya pada sistem operasi ini yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Seperti dilaporkan Techcrunch, pada 2009 hanya ada sekitar 3.000 aplikasi baru dirilis per bulannya. Sementara pada 2016 ini, lebih dari 50.000 aplikasi baru telah dirilis per bulan, dan hal ini akan tampaknya terus meningkat.

Pertumbuhan itu tampak sebagai hal yang positif jika berkaca pada sistem operasi lain seperti Windows Mobile buatan Microsoft yang seolah hidup segan mati tak mau–yang membuat gawai pintar yang memakai sistem operasi itu menjadi tak laku. Namun ternyata, dibalik melimpahnya jumlah aplikasi tersebut, sering timbul masalah juga.

Soal pertama adalah masalah efektivitas. Banyaknya aplikasi akhirnya berujung matinya sistem operasi tersebut. Masalah kedua terkait dengan ketidakpraktisan. Hal yang sejatinya dihindari oleh para kreator gawai pintar manapun di dunia.

Jutaan aplikasi yang tersedia belum tentu digunakan secara merata. Ratusan aplikasi punya fungsi hampir serupa, dan semuanya memperebutkan tempat untuk berada dalam layar gawai pintar Anda.

Semakin tinggi suatu rating aplikasi dalam toko digital suatu sistem operasi, maka akan semakin besar pula kemungkinan aplikasi tersebut untuk muncul pada "etalase toko" untuk kemudian diunduh dan digunakan oleh para pengguna gawai. 

Lantas bagaimana dengan aplikasi lainnya? Mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk “muncul ke permukaan” akan ditinggalkan mati. Persaingan yang sangat ketat, bukan?

Menurut data Techcrunch, jumlah aplikasi yang terbengkalai di App Store iOS hingga akhir tahun 2015 mencapai angka lebih dari 1,5 juta. Turnover yang cepat dari para pengembang aplikasi (yakni sekitar dua hingga tiga bulan), dikombinasikan dengan tingkat peluncuran aplikasi yang begitu tinggi, telah membuat App Store menjadi kuburan harapan dan impian para pengembang aplikasi. App Store menjadi kuburan bagi aplikasi-aplikasi yang tak laku tersebut.

Masalah lainnya: aemakin banyaknya aplikasi yang diunduh, maka semakin banyak pula icon aplikasi pada layar gawai pintar Anda. Bayangkan betapa penuhnya layar jika terdapat 70 aplikasi yang Anda unduh. 

Hal ini kemudian berujung pada ketidakpraktisan. Anda harus melakukan log in pada aplikasi A jika ingin memesan tiket pesawat, sementara Anda juga harus membuka aplikasi B untuk memesan makanan yang diinginkan, atau aplikasi C untuk melakukan pembayaran tagihan listrik Anda.

Masa depan Aplikasi

Sejumlah masalah tersebut tentunya memicu beberapa pemikiran yang kemudian berkembang, tidak hanya di kalangan para kreator aplikasi, namun juga dari pengembang sistem operasi. Dan saat ini, keadaan sudah mulai berubah. Aplikasi telah memulai evolusinya.

Di Cina, pergeseran tren itu sudah mulai dirasakan melalui aplikasi WeChat yang telah berkembang menjadi aplikasi super. Meskipun pertama kali dirilis pada Januari 2011 sebagai aplikasi berbagi pesan, suara, dan foto, WeChat saat ini telah menyediakan berbagai fungsi sehingga Anda dapat memesan taksi, membeli tiket film, bermain game, check-in untuk penerbangan, serta membayar tagihan melalui satu aplikasi saja. Daftar itu kemudian masih terus bertambah hingga saat ini.

Di Indonesia, fenomena itu sudah tidak asing dan dapat dilihat pada aplikasi Go-Jek. Dengan hanya membuka aplikasi tersebut, pengguna tidak hanya dapat memesan makanan, namun juga mampu membeli tiket pertunjukan. Hingga laporan ini ditulis, Go-Jek telah menyediakan 14 layanan dalam aplikasinya, termasuk penjualan pulsa telepon genggam.

"Dalam beberapa tahun, aplikasi individual mungkin akan masuk ke dalam [aplikasi] yang lebih besar. Perlu taksi? Di masa depan mungkin hal itu akan semudah membuka aplikasi kamera Anda," kata Charles Arthur, mantan editor teknologi The Guardian.
Evolusi Aplikasi pada Gawai Pintar 
Selain aplikasi super, terdapat pula asisten virtual seperti Siri buatan Apple, Google Assistant buatan Google dan Cortana besutan Microsoft. 

Saat ini pelbagai Artificial Intellegence (AI) itu sudah mampu melakukan beberapa hal yang sebelumnya membutuhkan aplikasi terpisah, seperti fungsi melakukan pencarian di Internet, menemukan restoran terdekat, hingga mengidentifikasikan musik yang sedang diputar dan memesan kendaraan Uber.

Hal ini jelas membuat aplikasi berfungsi sama menjadi mubazir. Terlebih para asisten virtual itu terintegrasi dengan sistem operasi gawai pintarnya.

Ada pula chatbot dalam aplikasi pesan instan (contoh: Skype dan Telegram) yang mampu menjalankan fungsi-fungsi di luar pengiriman pesan seperti pencarian tiket pesawat (Skyscanner), permainan sederhana atau pemrosesan data dalam aplikasi tersebut.

Tapi transisi ini masih belum tampak pada aplikasi profesional seperti pengolah foto Photoshop atau pengolah video Adobe Premier. Namun, bukan tidak mungkin hal itu akan tercapai di masa depan. Aplikasi game berat mungkin menjadi satu dari sedikit aplikasi yang tidak terintegrasi di masa depan.

Melihat tren superaplikasi itu, bisa jadi kelak aplikasi-aplikasi "biasa" tidak akan menjadi faktor penting dari sukses tidaknya suatu gawai di masa depan. Lalu, bagaimana nasib dan kebebasan para pengembang aplikasi untuk berkreasi di masa depan jika semuanya semakin terintegrasi antara satu layanan dengan layanan lainnya? 

Lima Tahun Lagi 80% Wilayah Cina Terhubung oleh Kereta Cepat

Lima Tahun Lagi 80% Wilayah Cina Terhubung oleh Kereta Cepat
Cina sedang dalam masa pertumbuhan ekonomi yang pesat. Oleh sebab itu Pemerintah Cina juga mengimbanginya dengan membangun infrastruktur yang memadai. Salah satunya adalah dengan membangun kereta cepat untuk menghubungkan semua wilayah. Mereka menargetkan 80 persen wilayahnya terhubung dengan kereta api cepat pada lima tahun mendatang.

"Tiongkok akan membangun sistem transportasi yang komprehensif, yang menghubungan semua wilayah, guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kesenjangan antardaerah," kata Menteri Transportasi Cina Yang Chuantang di Beijing, Kamis (29/12/2016).

Dalam jumpa wartawan mengenai pembangunan transportasi Tiongkok, ia mengatakan untuk menghubungkan 80 persen wilayahnya dengan kereta cepat, pemerintah menargetkan pembangunan jalur kereta api cepat hingga 30 ribu kilometer sepanjang 2016 hingga 2020.

Ia menuturkan pembangunan jalur kereta api cepat tersebut tentu akan menggunakan teknologi dan inovasi terbaru yang ramah lingkungan. Negara itu juga berencana membangun jalur kereta api cepat di perbatasan negara, dan jalur laut untuk mendukung Jalur Sutra Maritim (JSM). 

"Tiongkok telah mencanangkan Jalur Sutra Maritim dan Satu Sabuk, Satu Jalan (One Belt, One Road/OBOR), sehingga pembangunan transportasi pun akan diarahkan untuk mendukung kedua visi tersebut. Dengan kata lain, pembangunan transportasi yang komprehensif untuk menyebarluaskan keuntungan bersama," kata Yang Chuantang.

Sementara Wakil Menteri Transportasi yang juga Aministrator Kantor Adminitrasi Nasional Kereta Api Cina Yang Yudong mengatakan perkeretaapian Cina berkembang cukup pesat. 

"Sangat mengesankan perkembangannya dalam beberapa dekade terakhir," katanya sebagaimana dilansir Antara.

Hingga 2015 panjang jalur kereta api yang telah dibangun mencapai 121 ribu kilometer, terpanjang kedua dunia, dan 19 ribu kilometer di antaranya merupakan jalur kereta api cepat. Pemerintah Cina berkomitmen mempercepat pembangunan jalur kereta api di wilayah tengah dan barat guna mengurangi kesenjangan antardaerah. Selain itu, pemerintah telah membangun dan memperbaiki jalan-jalan antarprovinsi, kota dan desa.

Menilik Pengguna Messenger di Indonesia

Menilik Pengguna Messenger di Indonesia


Jarak kini bukan lagi halangan untuk bisa saling bertatap muka setiap hari. Messenger yang semakin beragam, dengan layanan yang kian variatif membuat para penggunanya semakin mudah berinteraksi meski harus terpaut jarak yang sedemikian jauh. Aplikasi pesan kini sudah berperan penting  dalam komunikasi keluarga, menjalin relasi, urusan kantor, hingga tetek-bengek urusan dapur.

Sejak munculnya berbagai macam aplikasi pesan instan macam LINE, WhatsApp, BlackBerry Messenger (BBM), Telegram dan lainnya, angka pengguna layanan messenger di Indonesia terus meningkat. Menurut laporan eMarketer, pengguna pesan instan di Indonesia pada 2014 tercatat sebanyak 37,6 juta pengguna, meningkat di 2015 sebanyak 52,9 juta pengguna, 2016 sebanyak 62,6 juta pengguna dan diprediksikan akan terus meningkat pada 2017 (72,5 juta pengguna), 2018 (81,7 juta) dan 2019 sebanyak 91,6 juta pengguna.

Tapi dari sekian banyak itu, aplikasi yang paling populer di dunia adalah WhatsApp. Aplikasi ini menjadi favorit di 109 negara atau 55,6 persen dari seluruh negara di dunia. WhatsApp memimpin di negara-negara seperti Brasil, Meksiko, India, Rusia dan banyak negara di Amerika Selatan, demikian laporan Similar Web dikutip dari Antara.

Urutan kedua adalah Facebook Messenger, yang difavoritkan di 49 negara seperti Australia, Kanada hingga Amerika Serikat. Posisi lima besar dipegang oleh aplikasi Viber, Line dan WeChat. Viber digunakan lebih dari 10 negara yang populer di Eropa Timur dan memimpin pasar di sejumlah negara seperti Belarus, Moldova dan Ukraina. Sedangkan yang menempati urutan ke enam adalah Telegram. 

Sementara BlackBerry Messenger (BBM) hanya banyak digunakan di satu negara, yakni Indonesia. Kepopuleran BBM di Indonesia ini mencapai 87,5 persen, angka ini jauh dibandingkan dengan pengguna di Amerika Serikat yang hanya sekitar 0,42 persen. 
Menilik Pengguna Messenger di Indonesia
Aplikasi manakah yang paling populer di Indonesia?

Untuk mencari tahu hal itu, Blog.jakpat.net pernah melakukan survei pada tahun 2016 dengan mengambil 310 koresponden. Hasil survei itu menempatkan tiga nama teratas yakni, BlackBerry Messenger sebanyak 80,31 persen, WhatsApp sebanyak 72,78 persen dan LINE sebanyak 71,33 persen.

Ketiga aplikasi tersebut tentunya memiliki keunggulan yang berbeda-beda, WhatsApp dinilai sebagai aplikasi pengirim pesan tercepat dan paling stabil dengan persentase 50 persen, sementara urutan kedua tercepat dipegang oleh BBM (29 persen) dan yang terakhir dipegang oleh LINE (21 persen).

WhatsApp boleh jadi cepat dalam mengirimkan pesan, namun aplikasi tersebut masih kalah dibanding BBM yang dianggap lebih unggul dalam berbagi pesan broadcast. Untuk layanan broadcast, BBM unggul dengan 64 persen, LINE (20 persen) dan WhatsApp (16 persen).

Layanan telepon dan video call, yang paling unggul adalah LINE yang menempati posisi sebanyak 70 persen, sementara WhatsApp menempati 26 persen dan BBM sebanyak 6 persen.

Untuk aplikasi yang sering digunakan untuk mengirim berbagai dokumen seperti foto, musik dan video ke berbagai teman, yang paling unggul adalah WhatsApp yakni sebanyak 50 persen, sementara urutan kedua ditempati oleh Line (31 persen) dan yang ketiga BBM (19 persen). Sementara yang dianggap sebagai stiker atau emoticon paling menarik yang banyak digunakan adalah Line (84 persen), BBM (11 persen) dan WhatsApp (5 persen).

Survei tersebut kemudian meminta para responden untuk menyebutkan alasan mereka memilih setiap aplikasi. Kebanyakan mereka memilih BBM untuk mengobrol dengan alasan lebih pribadi karena menggunakan PIN untuk pertemanan. Selain itu mereka juga jauh lebih mudah untuk menghubungi karena mudah mencari kontak pada BBM mereka. Alasan lainnya, fitur ini juga memberitahukan penundaan pesan, terkirim dan terbaca dan BBM juga dinilai lebih mudah dan cepat dalam mengirimkan file seperti pdf yang membuat manfaat bagi mereka.

Sementara WhatsApp dipilih dengan lima alasan. Pertama, karena dianggap paling cepat dan stabil. Kedua, penambahan daftar otomatis yang langsung terhubung dari kontak telepon. Ketiga, WhatsApp bisa mengirimkan beberapa file sekaligus. Keempat adalah kurang lebih sama dengan BBM yakni memiliki pemberitahuan penundaan pengiriman pesan, terkirim dan terbaca. Kelima adalah tersedianya fitur panggilan atau telepon gratis.

Alasan utama para pengguna memilih LINE adalah aplikasi ini memiliki stiker yang lucu dan ekspresif. Kedua, LINE menawarkan video call gratis. Ketiga LINE dianggap sebagai aplikasi dengan pengiriman pesan yang stabil dan cepat. Keempat, mereka yang menggunakan aplikasi ini karena teman-temannya yang menggunakan LINE. 

Menurut Manajer Pemasaran LINE Indonesia, Yuanita Agata, aplikasi ini telah digunakan kurang lebih 90 juta orang Indonesia, 80 persen di antaranya merupakan pengguna aktif, dengan rentang usia 15 hingga 35 tahun.

Sementara mereka yang berusia 40 tahun menggunakan LINE untuk berkomunikasi dengan anaknya yang jauh dari rumah. Alasan lainnya, orang tua juga mereka terbantu dengan fitur LINE Today yang digunakan untuk mengakses berita.